Ini adalah milad “SabaMaiya” yang ke empat, salah satu simpul maiyah di kota kecil kami, kota dingin Wonosobo, menandai pula kurang lebih empat tahun perkenalanku dengan majelis masyarakat maiyah, meski aku tidak tahu kapan tepanya lahirnya “SabaMaiya” karena saya tidak datang pada edisi pertama sabamaiya, memang diawal awal majelis yang umurnya masih muda ini kami sempat bermaiyahan secara nomaden, hingga kini kami sudah bisa lebih sedikit menetap.

Tidak seperti biasanya pada milad Sabamaiya yang kami rayakan entah secara besar atau kecil kecilan yang cukup dengan tumpengan, tapi pada milad keempat ini yang bersamaan dengan pandemi virus covid 19 yang melanda secara global , dan pemerintah menghimbau pada masyarakat agar tidak melakukan pengumpulan masa, hingga baik rutinan majlisan dan perayaan milad ditiadakan untuk edisi ini. Pada kesempatan milad ini kami mengisinya dengan tulisan tulisan kami tentang maiyah, dan tak terkecuali saya yang sebetulnya juga tidak pandai menulis, juga menulis tentang Maiyah. Dan mohon untuk direvisi bila banyak kesalahan.

Maiyah, pada awalnya saya mengira ini semacam fan’s club Emha Ainun Najib (Cak Nun) dan KiaiKanjeng saja, yah biasa saja tak berbeda dengan fans club group band musik lainya, Namun, setelah beberapa kali saya datang ke majelisan saya jadi bisa ambil kesimpulan bahwa “maiyah itu biasa saja”.

Iya biasa saja, bagi saya yang masih awam ini.

Maiyah adalah bentuk sebuah hubungan, sebuah kemesraan, sebuah pembelajaran, sebuah romansa kebidupan yang sesungguhnya biasa saja , dan biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari hari kita.

Namun di majlis maiyah itulah saya bisa menemukan dan saya bisa menyimpulkan bahwa maiyah itu adalah “Penafsir” yang sangat efektif, jelas, dan mudah diterima dalam menafsirkan hal hal yang biasa kita lakukan itu ternyata hal yang luar biasa, dan hal hal yang kita anggap luar biasa karena tak terbukanya pikiran kita, atau karena sifat “gumunan” kita adalah hal hal biasa.

Maiyah mampu menafsirkan dengan bahasanya tentang hubungan ,baik hubungan mahluk dengan Tuhanya , antara sesama mahluk dan mahluk, baik secara komunikasi, perilaku dan rasa.

Maiyah mampu menafsirkan sebuah pembelajaran yang belum kita paham tentang pelajaran yang kita terima baik disekolah sekolah, di pondok pesantren, pelajaran budaya dan tradisi di masyarakat dengan baik.

Maiyah mampu mengajarkan dan membuka pandangan pandangan saya, karena di maiyah saya diajarkan tentang sudut pandang, jarak pandang, resolusi pandang, bahkan tentang daya pandang saya yang sangat lemah.

Maiyah mampu menafsirkan tentang bahasa cinta romansa romansa kehidupan , tentang betapa mesranya percumbuan kami dengan dunia, dan menjadi jembatan di dalam pertikaian kami dengan kehidupan tanpa kami tersekan perbedaan organisasi, agama, ras, suku, golongan, dan species, tanpa saling merendahkan, mengunggulkan, atau bahkan menonjolkan sosok diantara kami,yang mungkin kami hanya datang dengan keresahan keresahan yang tak patut kami resahka sebetulnya, tapi kami tetap diterima disitu.

Maiyah, kalau saya boleh menartikan dan mungkin artinya tidak sama dari makna yang empunya nama yaitu simbah (Cak Nun), Maiyah itu dari kata Ma’un/Ma’ ( ماء) yang artinya “air”, yang dimana air disamping sebagai sumber kehidupan, air juga memiliki sifat “menempati ruang”. Nah menurut saya barmaiyah berarti saya diajarkan untuk dapat menempati dan menyesuaiakan dengan ruang , dimanapun ruang lingkup saya, baik dimasyarakat , di kehidupan beragama, di organisasi, di kelompok kelompok komunitas , di keluarga, bahkan di ruang kecil sekecil tubuh saya sendiri, yang bahkan sampai saat terkadang tak mampu menempati tubuh kita sendiri, namun tetap datar dipermukaan semua itu.

Namun saya yang masih baru belajar menjadi air itu terkadang masih belum bisa menempati ruang, saya adalah air yang belum stabil, yang masih dapat membeku karena diletakan di temperatur suhu yang sangat rendah, atau bahkan menghilang menguap ke udara karena diletakan di suhu yang terlalu panas.

Maiyah itu adalah samudra yang dimana kami adalah air air dari berbagai sumber, baik dari sumber mata air yang jernih , kami yang dari comberan, kami yang dari aliran aliran limbah limbah peradaban dapat diterima dengan baik di samudra itu beserta bangkai bangkai, sampah sampah, yang kami bawa dari aliran aliran kehidupan yang kami lewati.

Iya maiyah itu biasa saja, yang membuka tentang hal hal yang kita anggap biasa adalah hal yang luar biasa, atau hal hal yang kita sering anggap luar biasa ternyata adalah hal yang biasa saja, Maiyah itu biasa saja, maka biasakan bermaiyah.

Wonosobo, 1 April 2020

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *